Minggu, 11 Desember 2011

resep pempek

PEMPEK
Cara membuat pempek palembang:
Bahan bahan pempek:
1.    Sagu Tani (bisa dibeli di HERO) sebanyak 3 bks @ 500gr (total 1500 gram)
2.    Ikan tenggiri yang besar (1 kg, bila digiling/dibersihkan menjadi 700 gram)
3.    Garam dapur secukupnya (untuk 1 mangkok = 1 sendok makan garam)
4.    Bumbu penyedap (Ajinomoto) secukupnya (2 sendok teh)
5.    Air dingin matang
6.    Air panas ( buat merebus) yang diberi sedikit minyak goreng.

Cara membuatnya:
  • Bersihkan ikan tenggiri dan giling pakai gilingan daging, hanya dagingnya saja, kulit dan durinya dibuang.
  • Campurkan ikan giling dengan air dingin dengan perbandingan 1:1 (atau 1:3/4 untuk lebih terasa ikannya).
  • Takar dengan mangkok bakso (kecil/sedang) dan bila dapat 2 1/2 mangkok, campurkan dengan air dingin sebanyak 2 1/2 mangkok juga (atau kurang, tergantung mau banyak sagu atau tidak).
  • Masukkan garam halus dengan ukuran sendok makan peres, sebanyak jumlah mangkok ikan dan air, dalam hal ini sebanyak 5 sendok makan peres.
  • Masukkan pula bumbu penyedap (Ajinomoto) dan aduk rata.
  • Masukkan tepung sagu perlahan-lahan sambil diaduk dan diuleni. Bila takaran tepat, akan terpakai tepung sagu sebanyak 1 kg, bila kebanyakan air, makin banyak sagu yang dibutuhkan dan rasa ikan kurang terasa.
  • Bila adonan sudah kalis (tidak lengket), dapat dibentuk bulat atau lonjong (lenjer) dengan tangan ditawuri tepung sagu lalu rebus. Sehabis pempek mengapung direbus, angkat, tiris, lalu goreng atau siap dimakan.
  • Bila sudah terbiasa, dapat membuat pempek isi telor mentah, seperti mempuat pastel (lihat contoh gambar di halaman lain).

Bahan cuko/kuah pempek:
1.    250 gram Gula aren
2.    50 gram Asam jawa, hindari memakai cuka dapur
3.    750 ml air
4.    5 siung Bawang Putih, cincang halus
5.    2 sdm ebi, dihaluskan
6.    1 sdt garam
7.    10 s/d 20 buah cabai rawit, dihaluskan (tergantung selera pedas).

Cara membuatnya:
  • Didihkan gula aren (merah), asam jawa, air lalu saring.
  • Masukkan bawang putih, ebi, cabe rawit dan garam, didihkan kembali lalu angkat.
  • Cuka sudah siap dihidangkan bersama pempek.

Berikut ini link yang juga menyajikan aneka RESEP PEMPEK Palembang yang menarik untuk dikunjungi, silahkan klik :




Kamis, 08 Desember 2011

Mengenal Jenis-jenis makanan & masakan khas Palembang

Pernahkah anda menyadari bahwa kota Palembang ternyata sangat kaya akan berbagai jenis makanan dan masakan khas yang uuuueenaak bangeeeet….atau super lezat. Mulai dari jenis kudapan seperti dessert; es kacang merah, srikayo dan puding yang terbuat dari agar-agar asli rumput laut, bolu, hingga masakan misalnya ada pindang ikan patin meranjat (meranjat nama salah satu daerah di sumsel), tempoyak, berengkes tempoyak, sop buntut hingga makanan khas yang sudah terkenal yaitu pempek dengan berbagai jenis; misalnya otak-otak ikan, pempek adaan, pempek kriting, pempek pastel, pempek telor, pempek panggang, pempek lenggang, serta kerupuk juga dengan berbagai jenis, ada yang terbuat dari ikan, udang, dan cumi-cumi serta kepiting hingga kerupuk yang terbuat dari belut dan bekicot yang terakhir ini berasal dari pulau bangka dan sekitarnya.

Kebanyakan orang Indonesia yang berasal dari suku lain, maksudnya yang bukan berasal dari Palembang dan sumsel hanya tahu bahwa makanan khas palembang adalah pempek saja. Sehingga pempek memang yang paling dikenal daripada jenis makanan khas-nya yang lain. Padahal kenyataannya terdapat banyak sekali jenis makanan dan masakan khas Palembang yang lain yang mungkin belum dikenal oleh orang Indonesia yang berasal dari suku lain. Sungguh disayangkan bila anda sampai tidak tahu tentang jenis-jenis makanan dan masakan khas yang terdapat di Palembang karena semua jenis makanan dan masakan tersebut sangat lezat dan sedap.
Tahukah Anda bahwa ternyata ada banyak sekali jenis makanan khas Palembang, mungkin kalo dihitung bisa lebih dari 30 jenis makanan yang super enaak dan lezaaat yang terdapat di kota yang terkenal dengan pempek tersebut. Contohnya ada: Burgo, lakso, celimpungan, laksan, tekwan, model ikan dan model gandum, rujak mi, mi celor, martabak HAR (martabak India), bolu delapan jam, bolu maksubah, itu baru jenis makanan kemudian untuk makanan pencuci mulut atau dessert: ada srikayo, aneka puding yang terbuat dari rumput laut asli dan es kacang merah yang sangat khas yang tidak terdapat didaerah lain di Indonesia. Kemudian untuk masakan ada tempoyak dan berengkes ikan (pepes ikan patin diramu dengan durian yang difermentasikan), ada pindang ikan patin meranjat yang lezat sekali apalagi ditambah dengan sambal bacang/mangga putih muda dan makanannya selagi hangat dijamin pasti satu piring tidak cukup. Bahkan pakar kuliner maknyus pak Bondan dan pak Wiliam Wongso sudah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat kuliner di Palembang dan sudah dipublikasikan di acara kuliner di beberapa televisi swasta.
Untuk jelasnya silahkan lihat sebagian jenis makanan tersebut dari gambar-gambar yang dipaparkan ini. Anda mau mencoba? sayangnya akan lebih terasa di lidah rasa yang asli apabila anda mengunjungi langsung kota Palembang, karena meskipun mungkin di kota seperti Jakarta dan kota yang lain terdapat restoran makanan dan masakan khas Palembang namun rasanya pastinya berbeda dengan rasa yang asli dari Palembang.






Senin, 05 Desember 2011

Palembang, Lebih Dari Sekedar Mpek-mpek

 

Berbicara mengenai Palembang, maka makanan yang pertama kali muncul di kepala adalah Pem-pek. Dalam beberapa tahun belakangan ini, mulai banyak bermunculan restoran-restoran khusus makanan Palembang. Menu-menu masakan Palembang mulai banyak dikenal dan digemari di Jakarta. Beragam jajanan khas Palembang seperti otak-otak, kerupuk kemplang, patin bakar ataupun pindang, celimpungan, tekwan, mie celor, martabak HAR atau yang lebih dikenal sebagai martabak India sampai dengan makanan manis untuk penutup seperti tempoyak, es kacang merah dan sarikaya.

Jika anda mencari alternatif restoran yang menyajikan masakan khas Palembang, maka sempatkan untuk mampir ke tempat yang satu ini. Terletak di Jalan Suryo no.50 tepat di seberang lapangan Blok-s, Palembang Food memiliki berbagai menu makanan Palembang yang cukup banyak variasinya.
Memiliki kapasitas untuk sekitar 25-30 orang, restoran ini cukup nyaman karena dilengkapi dengan ac dan  juga area khusus merokok. Pada bagian kasir terlihat tumpukan kerupuk ikan dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dijadikan cemilan oleh sebagian besar pengunjung sambil menunggu pesanan makanan datang. Tempat ini cocok sekali sebagai tempat arisan keluarga atau sekedar untuk berkumpul bersama teman-teman.
Patin bakar di restoran Palembang food ini cukup banyak diminati, begitupun mie celor yang menurut rekomendasi dari seorang teman merupakan menu wajib dari restoran yang satu ini. Hanya menunggu sekitar 15 menit, seluruh pesanan kami datang dan siap untuk disantap. Pindang patin, patin bakar,mie celor dan celimpungan pun terhidang di meja kami. Celimpungan merupakan makanan khas Palembang yang jarang sekali terdapat di Jakarta, celimpung ini adalah kuah santan yang berisi adonan pempek yang dibentuk mirip tekwan namun lebih besar.
Patin yang biasanya memiliki bau khas seperti bau tanah disini tidak berbau sama sekali. Disajikan garing di permukaan dan lembut pada bagian daging membuat patin ini tidak basah seperti patin pada umumnya. Lapisan lemak yang cukup tebal, perpaduan tomat,bumbu-bumbu dan daun kemangi yang disajikan diatas ikan membuat rasa ikan patin bakar ini gurih dan bumbu pun meresap sampai ke dalam daging ikan. Sambal yang disajikan sebagai pelengkap, menambah kaya rasa dari patin bakar. Pindang patin yang kami pesan pun cukup enak. Menggunakan kuah santan yang tidak terlalu kental, dengan sedikit perasan jeruk nipis membuat rasa dari pindang patin ini segar.
Saya sendiri sangat menyukai rasa dari mie celor yang kami pesan. Santan yang ringan, tidak kental berpadu dengan potongan kecil udang, mie telur, tauge dan telur rebus menjadi juara dari keseluruhan pesanan kami malam ini. Kuah dari mie celor ini sangat kaya rasa yang berasal dari kaldu udang, namun ringan dilidah. Bahkan rasanya sayapun tidak rela untuk berbagi.
Harga dari keseluruhan makanan pun cukup murah, mengingat porsi yang cukup besar dari masing-masing menu. Dengan sekitar 35 ribu per orang maka akan cukup membuat anda pulang dengan hati senang dan perut kenyang.
Jadi, Palembang bukan sekedar mpek-mpek saja bukan? Masih banyak bermacam makanan lain yang menarik untuk dicoba.
Hmm..setelah ini saya makan apalagi ya?

Jumat, 11 November 2011

Kue - kue Khas Palembang






Ketan Srikaya





kue maksuba
 
 
 
 

Lapis Kojo





Bolu Kojo
 
 
 
  

Kue 8 Jam
 
 
 

Engkak Ketan
 
 
 
  

Pempek Tampah
 
 
 
 

Ketan Srikaya
 
 
 
 

Martanbak mini
 

Lezatnya Mie Celor 26 Ilir Palembang

Mie Celor 26 Ilir Palembang

Meracik Mie Celor

Mie Celor

Bagi masyarakat Palembang ataupun yang pernah berkunjung ke Palembang, tentunya mengetahui Rumah Makan 26 Ilir HM Syafei, yang menyediakan menu khusus mi celor di Palembang, sebenarnya boleh disebut warung kecil karena hanya menyediakan sembilan meja. Meski begitu, kala musim liburan tempat ini bisa menjual hampir seribu piring mi celor dalam sehari.

Mi celor memang tak hanya ada di Kota Palembang, tetapi hampir di semua kota di Pulau Sumatera, seperti Jambi dan Lampung. Namun, di Palembang, mi celor menjadi makanan khas, nyaris sepopuler pempek.

Terutama saat musim liburan karena banyak orang Palembang yang pulang kampung, pada saat itu mi celor jadi menu wajib selain pempek. Tak hanya masyarakat biasa yang menyantap Mie Celor milik Haji Syafei, mulai dari Presenter asal Palembang Tanthowi dan Helmi Yahya, Anwar Fuadi.

Bahkan, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri juga sangat menyukai mi celor Haji Syafei. Hal ini tak mengherankan karena suami Megawati, Taufik Kiemas, asli Palembang.

Kelezatan Mie Celor 26 ilir ini sangat terkenal, dan menjadi menu favorit saat sarapan. Bahkan jangan kaget jika berkunjung ke tempat ini kita terpaksa harus mengantri untuk menikmati sepiring mie celor, dengan kuah santan dan taburan udang plus telur rebus.

Satu porsi mie celor ini dihargai dengan Rp 12.000, - , minumannya bisa es jeruk atau es teh manis.

Bentuk mi celor ini lebih besar dari mi telur yang biasa digunakan untuk bakso atau bakmi. Mi celor menggunakan mi telur yang berwarna kuning, tetapi ukurannya jauh lebih besar dan lurus tidak keriting, lebih mirip spageti. Yang belum pernah menyantap mi celor akan menyangka makanan yang dihadapinya adalah varian spageti atau pasta khas Italia.

Pendatang dari Jakarta yang ingin membawa pulang mi celor sebagai buah tangan juga tidak ada halangan karena makanan ini bisa bertahan beberapa jam. Namun, harus dikemas secara terpisah, antara kuah dan bahan mi celor lain. Biasanya, pembeli yang ingin membawa ke Jakarta memesan terlebih dahulu dan diambil saat akan ke bandara. Tujuannya, agar mi celor tetap segar sampai di Jakarta.

Sayangnya, warung Haji Syafei belum membuat kemasan khusus untuk pemesan yang ingin membawa ke Jakarta sebagai oleh-oleh. Padahal, jika kemasannya rapi dan aman, tentu banyak orang Palembang yang akan memesan untuk membawa makanan tradisional tersebut.

Namun, pengelola warung Haji Syafei punya alasan, kemasan khusus akan menimbulkan biaya baru. Bahkan, kemungkinan harga kemasan sama mahalnya dengan produk mi celor itu sendiri. Selain itu, dengan bungkus plastik yang dilakukan saat ini, belum pernah ada keluhan dari pelanggan karena bungkus kuah mi celor pecah saat dibawa dalam kabin pesawat.

Belido Goreng nan Lemak Nian




Ikan belida adalah ikan kebanggaan orang Palembang yang semula banyak ditangkap dari Sungai Musi. Ikannya seperti berpunuk, dagingnya penuh lemak dan paling cocok untuk membuat otak-otak, pempek, maupun krupuk ikan. Rasa dan aromanya sangat khas. Saking populernya, ikan belida di Sungai Musi sudah semakin jarang populasinya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan wong Kito Galo, maka belida pun kini harus didatangkan dai Sumatra Barat dan Kalimantan Barat. Seekor ikan belida hidup harganya mencapai Rp 125 ribu per kilogram.

Kelangkaan ikan belida menjadikan makin sedikit rumah makan yang dapat menyediakan menu belida bagi para tamu. Bahkan, untuk jenis pempek dari ikan belida, hanya tinggal satu tempat yang dapat menyediakannya. Selebihnya harus puas dengan ikan tenggiri dan ikan-ikan jenis lain untuk diolah menjadi pempek, otak, dan krupuk.

Ketika masih berukuran kecil, ikan belida berwarna kehitaman, dan disebut ikan putak. Semakin dewasa, warna kulitnya menjadi semakin cerah. Potongan ikan belida harus dibungkus dengan daun pandan agar tidak hancur tercerai-berai ketika digoreng. Maklum, dagingnya sangat banyak mengandung lemak yang baik untuk kesehatan. Sepotong ikan belida goreng harganya bisa mencapai Rp 50 ribu., setara dengan harga seekor udang galah berukuran setengah kilo.

Salah satu rumah makan yang masih menyediakan belida goreng adalah RM Mahkota Indah (ada 2 cabang di Palembang). Ikan belida goreng hanya disajikan berdasarkan pesanan dan langsung digoreng agar masih panas ketika disajikan. Bila digoreng ulang, lemaknya akan hilang dan hancur. Jangan khawatir dengan lemak ikan yang kaya Omega 3. Yang perlu dikhawatirkan justru adalah minyak yang dipakai untuk menggoreng.

RM Mahkota Indah juga terkenal dengan pindang kepala patin. Pindang adalah masakan khas Sumatra Selatan yang sangat mirip dengan asam-pedas dari Riau. Setidaknya ada empat jenis pindang yang populer di Sumsel, yaitu: Pindang Palembang, Pindang Musi Rawas, Pindang Sekayu, dan Pindang Meranjat. Masing-masing sesuai dengan nama kampung asalnya. Dari semua jenis itu, Pindang Meranjat –lah yang paling intens bumbunya dan agak kental kuahnya. Pindang yang lain agak encer. Ada juga pindang yang dicampur dengan tempoyak (fermentasi durian) yang agak kental kuahnya.

Di RM Mahkota Indah juga dapat dipesan pindang kepala ikan belida yang lebih berlemak. Pilihan lain adalah pindang kepala ikan baung (semacam lele laut). Ketiga jenis ikan ini mengandung lemak, sehingga sangat cocok dimasak pindang.

RM Mahkota Indah menyajikan hidangannya mirip rumah-rumah makan pindang, yaitu dengan menggelar berbagai lauk dalam pinggan-pinggan kecil. Jangan lewatkan ikan seluang goreng yang gurih renyah dengan sambal rusip (fermentasi ikan-ikan kecil) atau sambal tempoyak yang sungguh menawan.

Makanan Lubuk Linggau

Mari Mengenal Makanan Lubuk Linggau Tidak ada yang lebih menarik pada saat kunjungan ke kota lain selain mencari makanan daerah asli. Mendarat di kota Lubuk Linggau yang adalah bagian dari propinsi Sumatera Selatan, saya langsung bertanya kepada tuan rumah makanan-makanan khas kota Lubuk Linggau. Ternyata saya disodorkan beberapa makanan yang tidak asing di telinga saya yaitu makanan-makanan yang bisa saya temui di kota Palembang. Di antara nama-nama yang disodorkan adalah pempek, tekwan, model, otak-otak, burgo, dan lain-lain lagi. Kesemuanya bukan makanan yang asing bagi saya.Kota Lubuk Linggau adalah kotamadya kecil dalam arti sesungguhnya. Terletak cukup jauh dari kota Palembang karena berlokasi diperbatasan antara Sum-Sel dengan Bengkulu. Tidak heran jika Lubuk Linggau lebih dekat dicapai lewat Bengkulu, 3,5 jam jalan darat sedangkan dari Palembang bisa 5 sampai 6 jam lewat jalan darat.
Jalan utama Lubuk Linggau hanya 2 yaitu Jl.Yos Sudarso dan Jl. Sudirman. Jl. Sudirman adalah jalan di mana pasar berada sehingga yang ada adalah pasar dan ratusan toko klontong serta dipenuhi pedagang kaki lima yang membuat jalan Sudirman menjadi jalan yang paling semrawut di antara jalan-jalan lain. Jl. Yos Sudarso adalah jalan utama di mana bank dan kantor pemerintah berada kecuali kantor Walikota yang terletak jauh di pinggir kota Lubuk Linggau.
Pempek
Karena lahan yang tersedia di jalan utama tidak banyak maka rumah makan banyak tumbuh di jalan-jalan perumahan yang berubah fungsi menjadi restoran kecil. Teras dan terkadang ruang tamu menjadi tempat untuk menata meja dan kursi buat pelanggan bersantap.
Untuk malam pertama di Lubuk Linggau saya saya minta diantar ke tempat yang menjual pempek. Dalam waktu yang relatif singkat dari Jl.Yos Sudarso, hotel Citra, tempat saya menginap saya dibawa ke sebuah jalan kecil di mana ada rumah yang di halaman depannya terdapat gerobak kayu yang memajang berbagai jenis pempek. Di situ tidak hanya pempek, tekwan, dan model yang masih berbahan utama ikan dan sagu pun tersedia. Buat saya yang menggemari pempek maka saya segera mengenali kualitas pempek yang sedang saya santap tersebut sebagai pempek yang tergolong enak.
Martabak India
Keesokan paginya, sambil menyusuri jalan Yos Sudarso saya melihat sebuah rumah makan yang khusus menjual Martabak. Martabak ala kota Palembang yang saya kenal bukan seperti martabak yang biasa kita jumpai di Jakarta. Di Palembang ada martabak ala India yang sangat terkenal yaitu martabak ala India dengan nama HAR. Dikenal juga sebagai martabak India karena yang menjual adalah keturuanan India.
Saya penasaran ingin mencoba. Ternyata bahan dan cara membuatnya sama dengan martabak HAR tetapi bumbunya sama sekali berbeda. Kalau martabak HAR menggunakan bumbu kari kentang maka di Lubuk Linggau saya menjumpai saos bumbu yang rada asam. Ketika saya tanyakan pada ibu yang menjual, dia mengatakan bahwa bumbunya dari ketan dan kentang. Ketika saya tanyakan alasannya, secara sederhana dia mengatakan bahwa dia tidak tahu cara membuat saos bumbu kari seperti martabak HAR. Sangat polos dan jujur.
Model Gandum
Untuk keesokan harinya saya menanyakan kepada tuan rumah agar mencarikan jenis makanan daerah lain untuk makan pagi. Alhasil saya ditawarkan mencobai “model gandum”.
Buat saya model gandum bukan barang baru. Di Palembang, model gandum adalah makanan jajan sore hari yang keluar ke jalan-jalan umum menggunakan gerobak sekitar pukul 3 petang. Makanan yang terbuat seluruhnya dari gandum tersebut bukanlah makanan mahal sehingga populer sebagai makanan iseng sore hari.
Perbedaan model gandum di Palembang dengan Lubuk Linggau terletak pada ukurannya. Kalau di Palembang ukuran model gandum bisa berukuran 1.5 kali bola tenis lapangan maka di Lubuk Linggau ukurannyan lebih kurang sebesar bola tenis meja. Cara penyajiannya sama saja, dipotong-potong kecil kemudian disirami kuah bening dengan aroma rempah yang sangat kuat, khususnya biji cengkeh serta irisan kecil daging sapi. Tempat menjual model gandum yang kami kunjungi berupa warung kecil, sangat ramai dikunjungi pembeli sampai-sampai terjadi antrian dari mereka yang mau membungkus untuk dibawa pulang.
Mie
Makan pagi identik dengan makan mie, maka perburuan berikutnya adalah mencari mie ala Lubuk Linggau. Maka pagi hari kami menyusuri jalan Batur di mana ada sebuah restoran rumah yang memang spesialis menjual mie. Seperti tampak pada gambar, mie ala Lubuk Linggau tidak disajikan di mangkok melainkan disajikan dengan piring makan. Jika kita minta menu komplit maka akan diberikan pangsit, baso ikan, dan sayuran. Aslinya mienya dimasak dan dilengkapi dengan taoge tetapi kita bisa minta jangan diberi taoge jika tidak terbiasa.
Burgo
Nah makanan yang satu ini tidak sempat saya nikmati namun untuk mengobati penasaran pembaca saya ceritakan sedikit. Burgo terbuat dari adonan tepung gandum yang dibuat seperti dadar namun tipis kemudian digulung kemudian di potong-potong seukuran lebar 2 jari tangan. Kemudian disirami kuah santan berwarna kuning, diatasnya ditaburi bawang goreng dan boleh ditambahi sambal merah sesuai selera. Hem…nyam…nyammm…
Demikian sekilas wisata kuliner di tengah-tengah kunjungan saya ke kota Lubuk Linggau yang masih satu propinsi dengan Sumatera Selatan, tidak heran makanannya tidak jauh berbeda, tetapi rasa dan cara penyajian bisa berbeda. Orang tua bilang, “Lain padang lain belalang yang artinya menggambarkan lain daerah lain adat istiadatnya.